Jumat, 18 Oktober 2013

PESTA MANGGA MUARA

Senin, 10 Desember 2012

Pesta Mangga Kabupaten Tapanuli Utara 2012 (Hari Kedua)

Pesta Mangga Hari Kedua.  Diawali dengan penyeberangan Bupati Tapanuli Utara beserta seluruh rombongan dari Desa Sibandang di Pulau Sibandang ke Desa Huta Nagodang (pantai Muara), untuk melakukan olah raga Jalan Santai dari Pantai Muara menuju Desa Baribaniaek tepatnya ke pelataran Tugu Toga Siregar.

Seluruh peserta yang mengikuti jalan santai ini mengikuti Kebaktian di pelataran tugu Toga Siregar, untuk selanjutnya melakukan pertanaman Pohon Mangga di sekitar Gereja Katolik Baribaniaek.
Masyarakat se-Kecamatan Muara tampak sudah tumpah ruah ke pantai sekitar dermaga Muara untuk ikut serta dalam Pesta Mangga yang untuk pertama sekali diselenggarakan di Kabupaten Tapanuli Utara. Unsur Muspida Kabupaten Tapanuli Utara juga turut hadir pada Pesta di hari Minggu ini, tampak hadir Dandim 0210 Taput, Kasdim, Wakapolres Taput, tokoh-tokoh masyarakat lintas kecamatan.
Kegiatan yang dilakukan di hari kedua adalah Devile Mangga per-Desa se-Kecamatan Muara, Kontes Mangga, lomba Solu tradisional membawa Mangga sejauh 2 Km di Danau Toba, Lomba Marhonong (menyelam) mengambil Mangga dari dasar Danau Toba, Lomba Makan Mangga terbanyak tingkat SMP dan SMA/SMK

Amatan media ini dikeramaian masyarakat dan pengunjung pesta mangga, secara umum masyarakat Kecamatan Muara menyambut baik akan penyelenggaraan pesta, banyak harapan yang dilihat di masa depan, terbangunnya pariwisata Kecamatan Muara dengan menampilkan panorama, seni dan budaya yang melekat beruarat berakar di bumi Muara dan pada akhirnya akan menumbuhkan ekonomi masyarakat sebagai akibat multi effek diselenggarakannya Pesta Mangga.

Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing dalam sambutan di dua desa pemusatan Pesta Mangga ini menggarisbawahi, bahwa Muara harus semakin bangun, salah satunya melalui pemanfaatan bandar udara Silangit, dimana wisatawan nasional dan internasional akan memiliki akses yang lebih dekat ke kota Muara dan Pulau Sibandang.

Lebih lanjut Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing menyampaikan, kebangunan wisata suatu daerah tidak dapat dilakukan serta merta, selain karena keindahan panorama wilayah dan budaya, harus menjadi perhatian dan sering sulit dilakukan yakni "keramahtamahan" penduduk sehingga wisatawan yang datang akan merasakan kehangatan dan betah tinggal lebih lama.

Hiburan di hari kedua diisi oleh Marsada Band dan Saint Joy Voice yang mengajak seluruh pengunjung Pesta Mangga ini untuk berjoget ria walau hujan mengguyur kota Muara disore hari.

Hasil-hasil perlombaan di hari kedua pelaksanaan Pesta Mangga Muara ini :
Devile Mangga
Juara I, Desa Unte Mungkur
Juara II, Desa Hutanagodang
Juara III, Desa Huta Lontung
Juara Harapan I, Desa Baribaniaek
Juara Harapan II, Desa Silali Toruan
Juara Harapan III, Desa Simatupang
Kontes Mangga
Juara I, Desa Aritonang
Juara II, Desa Hutanagodang
Juara III, Desa Huta Lontung
Juara Harapan I, Desa Sibandang
Juara Harapan II, Desa Papande
Juara Harapan III, Desa Silali Toruan
Lomba Solu tradisional 
Juara I, Jekson Rajagukguk - Desa Huta Lontung
Juara II, Denris Rajagukguk - Desa Huta Lontung
Juara III, Edward Siregar, Desa Papande
Juara Harapan I, Swandi Siregar - Desa Baribaniaek
Juara Harapan II, Lingga Pasaribu - Desa Dolok Martumbur
Juara Harapan III, Benget Rajagukguk - Desa Dolok Martumbur
Lomba Marhonong/Mangukkor
Juara I, Desa Batu Binumbun
Juara II, Desa Huta Nagodang
Juara III, Desa Aritonang
Juara Harapan I, Desa Sibandang
Juara Harapan II, Desa Dolok Martumbur
Juara Harapan III, Benget Rajagukguk - Desa Dolok Martumbur
Makan Mangga
SD
Juara I, SDN 173340 Muara
Juara II, SDN 177664 Sitanggor
Juara III, SDN 173349 Huta Ginjang
Juara Harapan I, SDN 175798 Aritonang
Juara Harapan II, SDN 173362 Sampuran
Juara Harapan III, SDN 176357 Sibandang
 
SMP
Juara I, SMPN 3 Muara (Hutaginjang)
Juara II, SMPN 2 Muara (Aritonang)
Juara III, SMPN 4 Muara (Sibandang)
Juara Harapan I, SMPN 1 Muara (Muara)

SMA/SMK
Juara I, SMAN 1 Muara
Juara II, SMKN 1 Muara

Photo liputan :

SALIB KASIH

Sejarah Salib Kasih - Wisata Rohani | Kota Tarutung

Kota Tarutung merupakan ibukota Kabupaten Tapanuli Utara di Sumatera Utara. Kota ini cukup sejuk dan merupakan bagian dari sejarah perkembangan bangso batak. Daerah sekitar Tarutung juga dikenal dengan Rura Silundung karena dikelilingi pegunungan yang memperindah alamnya.

Aek Sigeaon - Kota Tarutung
Kota Tarutung terdiri dari satu wilayah Kecamatan yang dibelah oleh aliran Sungai Sigeaon. Di kota ini ditemukan kantor Pusat HKBP lembaga gereja terbesar di Asia Tenggara. Dari lokasi kantor bupati yang berada dilereng bukit, kita dapat memandang ke arah Timur dimana salib kasih bertengger megah diatas bukit Siatas Barita.

Salib Kasih
Salib Kasih adalah meonumen untuk mengenang dan mengabadikan semua pengorbanan dan jasa misionasir di tanah batak,khususnya DR.I.L Nomensen.Salib kasih dibangun pada bulan Oktober 1993 di Dolok Siatas Barita terletak di kecamatan Siatas Barita arah selatan kampung Tarutung.Konon tempat ini adalah tempat bermukimnya Sombaon.


Jalan Ke Salib Kasih
Sombaon adalah Roh Alam yang tinggi martabatnya dalam kepercayaan Batak Kuno.Roh ini sangat ditakuti karena dipercayai dapat menentukan nasih baik maupaun buruk dari orang-orang yang bermukim di sekitarnya sehingga pada waktu itu tidak jarang Sombaon atau tempat ini dipuja-puja dengan memberikan pelean (sesajen) dengan harapan akan mendapat keberuntungan dan keselamatan.

Dipuncak si atas barita inilah sekitar tahun 1863 yang lalu,DR.I.L.Nomensen menatap lembah Silindung yang begitu indah dan luas,dia berdoa HIDUP ATAU MATI,BIARLAH AKU TINGGAL DI TENGAH-TENGAH BANGSA INI UNTUK MENYEBARKAN FIRMAN DAN KERAJAANMU

Peristiwa ini mengawali bakal kehidupan baru orang-orang batak yang belum mengenal kristen untuk meninggalkan animisme.Atas jasanya,dia disebut sebagai Apostel pertama Orang batak.

Akan tetapi Puncak siatas barita yang dianggap angker dan menakutkan sudah menjadi Taman Eden mini yang dikunjungi banyak oran dan setiap orang yang berkunjung kesana akan memperoleh kedamaian hati dan pikiran.Salib Kasih dengan ketinggian 31 meter disangga dan ditopang oleh tiga tiang raksasa sebagai lambang Trinitas.Di bawah Salib tersebut terdapat sebuah ruangan kecil tempat berdoa dan didepannya terhampar tempat duduk dengan kapasitas 600 orang serta dilengkapi dengan sebuah mimbar persis dibelakang mimbar menatap jauh ke hamparan rura silindung.

Lokasi ini ditata dengan taman rekreasi yang indah dan sejuk.Terdapat juga arena bermain serta Open stage yang menjadi panggung persembagahan lagu-lagu rohani.

Pada malam hari nampaklah Salib Kasih dengan cahayanya,melengkapi Tarutung sebagai kota Wisata Rohani yang sejuk dan damai.

Dikutip dari buku terbitan Dinas Pariwisata,Seni dan Budaya Tapanuli Utara
Sumber : http://salibkasihtarutung.blogspot.com
Info Update : Follow twitter @Salib_Kasih | Facebook Tarutung Salib Kasih
Judul : Sejarah Salib Kasih - Wisata Rohani | Kota Tarutung
Rating : 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Oleh : valent huba
Terimakasih atas kunjungan nya..

Kamis, 17 Oktober 2013

REKREASI DI MUARA NAULI TAPUT

13 Agustus 2009

Rekreasi di Muara Nauli Taput

Halo semuanya, saya ingin menceritakan kepada kita bahwa salah satu pemnadangan yang merupakan tempat rekreasi untuk sekedar menghilangkan rasa penat bahkan bisa menyegarkan pikiran kita, cobalah sekali-sekali berekreasi ke Muara Nauli kabupaten tapanuli Utara. Letaknya tidak begitu jauh sekitar 1,5 jam perjalan dengan mengendarai roda empat, bisa juga dengan bersepeda motor. Tempat ini sepertinya kurang tertata dengan baik, sayang juga ya, padahal kalau ini dikelola dengan profesional setidaknya dibenahi sarana dan prasarana, seperti membuat tempat-tempat khusus untuk mandi-mandi, mck dan lain-lain, Ok. Ini sekedar beberapa poto pemandangan yang dapat kami abadikan.

Muara nauli

Kamis, 08 November 2012

The trip from Parapat to Muara Nauli takes about 3 hours. The road is narrow. So the big bus can't pass by this road. There is a small airport, Silangit Airport, which located not far from Muara Nauli. It takes about a half hour by flight from Polonia Airport to Silangit Airport. Of course the trip is faster by air than by land.
The fatigue during the long trip by minivan went away when we see the beautiful scenery along the road. In Muara Nauli, the scenery is more amazing. The nature and the air were still natural, fresh and beautiful. In Muara Nauli, there is a hotel. named Sentosa Lake Resort. It is a new hotel, the room is big and clean, the staff is very friendly and behind this hotel is Toba Lake. So, you can swim in here, the Lake was clean and the water is transparent and cool in the morning.


PESTA BATAK: KAPANKAH DERITA INI BERAKHIR? :-)

Sebagai seorang pendeta di gereja yang anggotanya mayoritas mutlak Batak, dan sebagai laki-laki Batak yang sudah menikah, tidak bisa tidak, saya seringkali menerima undangan untuk menghadiri pesta adat batak khususnya pernikahan. Namun jujur, saban-saban menerima undangan saya selalu menarik nafas dan membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan datang (walau telat atau sekadar setor muka sesaat, atau memilih hanya hadir di pemberkatan di gereja saja). Kalau saya tidak datang, apalah nanti kata orang. Masa pendeta tidak datang ke pesta anggota jemaatnya apalagi saudaranya (catatan: istilah saudara di batak seperti tali jemuran di kampung yang bisa sangat panjang dan berbelit-belit). Tapi kalau datang, saya tidak sanggup lagi menghadapi suasana bising dan berisik, kepala saya pusing dan saya selalu kehilangan nafsu makan bila sambil makan dibombardir teriakan 2(dua) protokol dari dua pihak yang entah kenapa selalu berbicara pada saat yang sama. Belum lagi ditambah suara musik dan lagu yang memekakkan telinga (perasaan saya mik itu “dibondut” oleh si penyanyi dan volume soundystem disetel sekeras-kerasnya). Saya suka menuduh dalam hati kayaknya si penyanyi sengaja menyanyi kuat-kuat agar saya tidak bisa lagi ngobrol asyik dengan teman yang duduk dekat saya padahal reuni itulah selalu jadi tujuan kedua (kadang pertama) saya datang ke pesta. Sebab itu bila datang ke pesta, saya selalu mencari meja yang jauh dari speaker, tetapi “sedihnya” seringkali speaker itu ada dimana-mana. Kalaupun tempat yang bebas dari gangguan speaker hitam itu ada, maka tempat itu begitu tersembunyi dan jauh dari pelayan apalagi dari menu khusus di botol2 hijau yang entah kenapa beredar terbatas di meja-meja “raja-raja” adat.
Namun penderitaan saya belum komplit. Seringkali pesta batak itu baru mulai makan sesudah pukul 1 atau bahkan 2 siang, karena para hula-hula dan tulang masih harus disambut dengan manortor. Pihak suhut akan berjalan mundur dengan penari bayaran dengan tangan dikatup menyembah, sementara rombongan hula-hula akan berjalan gagah dengan ikan mas bergoyang-goyang di depannya. Biasanya pada momen ini saya akan termenung sendiri mengingat ibu saya yang sudah berusia 79 tahun dan memilih menyepi di Cibinong dan hampir tidak mau lagi menghadiri pesta pernikahan. Saya tahu betul dia sangat tidak suka pemandangan itu. Menurut ibu saya yang uzur itu adat yang benar: ikan mas pemberian hula2 harus dimasukkan ke tandok (sumpit pandan) dialasi nasi dan dijunjung santun di atas kepala, bukan dipamer-pamerkan telanjang. Dan penari2 bayaran itu benar-benar tidak masuk ke akalnya. Ya sudahlah. Jaman berubah. Ibu saya kalah. Namun saya akan senyum sendiri membayangkan bagaimana seandainya Raja Salomo yang diceritakan Alkitab punya istri 1000 orang berpesta atau mar-ulaon dan harus manortor maju-mundur menyambut seluruh hula-hulanya. Jam berapa makan baru bisa dimulai? Oala. :-)
Kadang saking lamanya menunggu (sesudah menyambut hulahula masih ada acara pasahathon tudu-tudu sipanganon), orang2 di dekat saya duduk tak sabaran dan langsung makan sendiri. Saya seringkali salah tingkah. Perut saya sudah lapar, tetapi posisi saya sebagai “pendeta” apalagi “berjambang” yang sangat mudah dikenali di ruang publik membuat saya harus menahan rasa lapar dan tidak ikut2an makan duluan, sebab sedikit-banyak tingkah saya diam-diam diperhatikan, dan yang jelek-jelek dijadikan panutan atau pembenaran. Namun orang2 yang kebetulan duduk semeja dengan saya – dan mengenal saya sebagai pendeta – juga sering salah tingkah. Mungkin mereka sudah tak kuat lagi dan ingin makan duluan tapi segan karena saya masih menunggu perintah dari depan. Akhirnya saya kadang2 keluar saja pura-pura menelpon atau apalah, memberi mereka kesempatan mengambil keputusan sendiri dengan bebas. Pernah di suatu pesta berhubung lamanya acara makan dimulai sebagian besar tamu sudah makan duluan. Pihak suhut meminta saya memimpin doa makan dan saya tolak dengan halus, namun mereka tetap memaksa, akhirnya saya pun maju dan berdoa: “Ya Tuhan, berkatlah makanan yang sudah, sedang dan akan kami makan. Amin”. :-)
Sejak kecil saya tidak doyan cabe, kepala saya langsung gatal2 bila makan cabe, tentu tidak enak menggaruk-garuk kepala sambil makan di pesta. Dan celakanya menu pesta batak itu persis sering dianggap seperti “hukum taurat” yang tidak boleh berubah satu titik pun. Makin lengkap sajalah penderitaan saya. Biasanya saya hanya mengambil sedikit ikan mas arsik kering (masakan ibu saya setahu saya arsiknya basah dan durinya lunak) dan acar yang kayaknya dipotong tanpa perasaan, kemudian kuah “sup polos” dan sedikit saja sangsang agar saya tidak dikatakan “tidak tahu adat”. Sambil makan pelan-pelan dibawah tekanan suara speaker, saya selalu melamun: kapankah saya punya duit yang banyak dan menyelenggarakan sebuah pesta dengan menu ikan mas goreng panas-panas, babi panggang serius, sup babi kacang merah diiringi lantunan piano yang lembut? Namun syukurlah Tuhan memang selalu tidak mau para pendeta hambaNya yang rendah ini terlalu menderita. Sering2 ada saja anggota punguan ina atau siapa yang datang ke meja dimana para pendeta dan sintua duduk menawarkan es puter yang diambilnya dari lantai 2 tempat parsubang. Lumayanlah sebagai hiburan. (Kadang2 bila ada teman sintua yang berani atau banyak naposo saya memilih makan di tempat parsubang saja – undangan tak makan babi – sebab di sana menunya lebih cocok untuk saya dan suasananya kurang berisik. Tapi kesempatan itu langka.
Namun tak ada yang tak berakhir di dunia ini termasuk pesta Batak. Sehabis makan, sebagaimana tradisi, adalah giliran memberi tumpak atau sokongan. Itulah saat yang saya nanti-nantikan. Jika kebetulan tak ada pendeta yang lebih senior, maka para sintua akan mendorong saya untuk maju duluan. Saya pun berjalan tenang sambil senyum-senyum. Suhut tampak gembira menerima salaman para undangan dan saya pun gembira menyalamkan tumpak saya kemudian berjalan mantap ke luar gedung pesta batak merayakan kembalinya kebebasan dan kenikmatan hidup saya. :-)
Horas

Muara Nauli Miliki Banyak Senjata Pamungkas


Muara Nauli Miliki Banyak Senjata Pemungkas

28 Agustus 10 | 16:37
Muara Nauli - Tapanuli Utara, Bila ditelusuri, sebenarnya daerah Muara memiliki banyak senjata pemungkas yang dapat memperkenalkan daerah ini sampai ke kancah nasional bahkan dunia internasional.
Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, letaknya persis di bibir pantai Danau Toba,  luasnya 7.500 hektar dan terdiri dari 15 desa, yakni Desa Unte Mungkur, Aritonang, Batu Binumbun, Simatupang, Silali Toruan, Huta Nagodang, Baribani Aek, Huta Lontung, Dolok Martumbur, Sitanggor, Silando, Huta Ginjang dan Desa Sibandang, Papande serta Sampuran di Pulau Sibandang (seluas sekitar 700 hektar).

Daerah ini cukup dikenal sebagai gudangnya jenderal dari Tanah Batak.

Orang pertama adalah TB Simatupang, kemudian diikuti Sahala Rajagukguk, Soaloan Simatupang, Maidin Simbolon, Mallatang Tambunan, Eduard Ompu Sunggu, Eduard Simbolon dan  masih banyak lagi generasi penerus.

Peran para perantau yang sudah berhasil, kiranya semakin meningkat untuk memperhatikan kampung asalnya Muara Nauli. Sokongan peningkatan taraf hidup masyarakat setempat sangat dibutuhkan. Perantau juga telah mendirikan hotel bertaraf bintang tiga di Muara yang sampai sekarang tetap beroperasi.

Camat Muara Drs Gibson Siregar mengatakan, posisi Muara sangat strategis dalam kepariwisataan Danau Toba sejak beroperasinya Bandara Silangit yang hanya berjarak 21 kilometer dari Muara.

”Visi Kabupaten Samosir jadi kabupaten pariwisata 2010 sangat potensial dan lebih dekat dari Muara karena keberadaan Bandara Silangit,katanya.

Didukung lagi pembangunan dermaga feri yang akan dioperasikan menuju Samosir”, tambahnya.

Namun, untuk mendukung posisi tadi, ia mengatakan masih perlu  dilakukan pelebaran badan jalan dari Silangit menuju ke Muara.
Pada sisi lain senjata pamungkas yang memperkenalkan Muara tak terlepas dari salah satu penghasil buah mangga terbesar yang dikirim ke Parapat. Pohon mangga di Muara perlu dilestarikan dengan peremajaan karena buah mangga tersebut salah satu aset pendukung pariwisata.

Muara Nauli, sebutan ini boleh dikata tumbuh sejak putra daerah berpangkat Jenderal Polisi RI Soaloan Simatupang mengampanyekan melalui karya lagunya  yang dikumandangkan beberapa artis Ibukota, baik di atas panggung bahkan dalam album rekaman. Sehingga Muara yang dikenal terletak di pinggiran Danau Toba semakin populer. [lnwgt]

PANORAMA MUARA NAULI

Panorama Muara Nauli

Muara adalah salah satu tempat yg indah berada di pinggiran Danau Toba yang sangat potensial dijadikan menjadi tempat Wisata. Selain tempatnya yg indah, Muara juga dekat dengan Bandara Silangit sehingga wisatawan yg ingin berkunjung atau berlibur kesana sudah menjadi lebih mudah. Apabila anda ingin berlibur ke Muara tidak perlu takut dengan tempat penginapan, selain Penginapan Muara Nauli, juga telah ada Hotel berbintang yaitu Hotel Sentosa.
Berangkat dari bandara Silangit menuju Muara, Keindahan Danau Toba telah bisa kamu nikmati mulai dari Dolok Martumbur sebelum sampai di Kota Muara Nauli, disana ada villa panatapan yang dikenal dengan timbulan panatapan. Anda bisa beristirahat disana sebentar untuk melepaskan lelah selama perjalanan anda sambil memandang, menikmati indahnya dan luasnya alam Danau Toba. Atau sebelum ke Muara anda juga bisa singgah dulu di Huta ginjang, memandang dari pilar panatapan yang bisa memandang luasnya Danau Toba, memandang ke Balige, ke Muara dan keindahan lainya.
Puas menikmati keindahan Muara, anda juga bisa langsung ke samosir dengan tidak susah payah karna kapal Ferry Muara-Nainggolan Samosir telah beroperasi di sana. Siap dari pulau samosir, anda bisa pulang melalui parapat atau kembali ke Bandara Silangit.
Bagi anda yg ingin layanan berkeliling menikmati keindahan Danau Toba, (Medan- Parapat – Samosir – Muara) atau (Silangit – Muara – Samosir -  Parapat – Medan) ingin mencari mobil Rentalan, anda bisa menghubungi saya di Email: jon.tonang@yahoo.co.id lepas kunci ataupun lengkap dengan supir berpengalaman.
Anda sedang di kota medan?? tidak masalah, hubungi saya ke alamat di atas, anda pasti kami layani.
Mari kita dukung Muara Nauli menjadi daerah wisata terkenal, semoga Wisata Muara Nauli menjadi jaya, terkenal di manca negara. (Marsipature hutanabe)

12 Respon untuk Panorama Muara Nauli

  1. LONGWIT SIANTURI berkata:
    Horas ma Lae Rajagukguk.
    Mauliate ma ala naung di baen hamu Blog on, songon sekedar penyampaian Uneg-uneg manang pendapat mengenai perkembangan di Tapanuli Utara umumna, jala di Huta Muara Nauli mai pada Khususna.
    Mauliate…
  2. krist bernard siregar berkata:
    horas… boi do dohot au amang..?
  3. krist bernard siregar berkata:
    beta hamu ma asa taulahon amang.. ganup akka tahi nauli sai tu lam nauli na ma muara nauli..!!
    horas ma di hamu amatta raja nang tu inang soripada..
    • Sepi dope bah Krist…,
      Mauliate ma di kunjungan mu di Blog on, sai lam dipatulus Tuhanta ma akka dalan jala dilehon roha nadenggan tu sude hita halak Batak, laho mamikkiri taringot tu hamajuao ni huta Muara Nauli i. Dengan dibacanya Blog ini, kita berharap ada anak Batak yg sudah sukses di perantauan, mau dan tergerak hatinya untuk memajukan Muara Nauli.
      Mauliate.
  4. krist bernard siregar berkata:
    gabe jala horas..!!! pulau sibandang lah yang pantas menjadi tempat kunjungan para wisatawan lokal maupun manca negara di muara nauli..!! 081260453693 my mobile number’s.. alana naso adong dope na hutanda di luat ni da oppung dimuara nauli…ido umbahen massai balga rohakku dinalaho maringanan di muara nauli !!.. nunnga hea dua hali au hu muara alai ipe holanna mamolus do au.. ai so binoto laho hu bagas nise iba ro..!! mauliate ma dituhan sai anggiatma di jalo elek-elek nang dohot alu-alukkon..!! horas…
  5. krist bernard siregar berkata:
    visit muara nauli.. sibandang island ( lake toba) thank you..!!
  6. Denny Herald Siregar berkata:
    Maccai godang hahurangan nahubereng saddiri taringot tu hamajuaon ni Muara Na uli ( Inna rohakku Dang ULI be hutakki) .Bereng hita ma di Pasar Muarai dang taratur jala massai kotor hian,songoni nang Pelabuhanna apalagi Kantor Camat i dang hea huroa direnovasi.Memang tumbuh do Pembangunan Penginapan .Inna rohakku dibagasan: ai aha do na naeng berengon di Muara On?? Molo Tao i ,so adong fasilitas rekreasi..ba tumagonanma maridi .
    • Mauliate dikunjungan muna di blog on lae Regar. Tohodo memang nanidokmuna on. Anggiatma nian adong akka roha nadenggan sian anak ni muara on nalaho mamparrohahon hutattai. Dangholan di pasar muara naadong hahurangan, dalan tu muara pe nuaeng tung maccai roa, malas jolma ro tu muara. Ulido nian Muara Nauli i, alai gabe roa ala soadong napeduli laho paulihon.
  7. Rinne Ompusunggu berkata:
    pas doi na idokon mi Rajagukguk. uli do anggo Muara i alai dalanna naroaan pe
    anggiat ma di parohahon pemerintah laho paturehon dalan i
  8. tony naibaho berkata:
    sai godang ma muse haduan akka halak pangaranto putra daerah, asa dibangun hutannta naulion, unang kalah songon pulau bali….lebih indah doon sian pulau bali, boasa hita mundur….maju terusss, mainkan
    dari antoni naibaho/boru sianturi (putra pribumi)

PENABALAN PENDETA HKBP

Penabalan Pendeta HKBP DI HKBP Cinere Distrik VIII Deboskab Minggu 22 Desember 2013