Sabtu, 26 Oktober 2013

PANORAMA WISATA DANAU TOBA MUARA

Panorama Wisata Danau Toba Dari Kota Muara Tapanuli Utara

Muara Danau Toba

Sudut lain keindahan alam danau Toba terlihat dari muara, Tapanuli Utara. Keindahan alam danau Toba sebenarnya sangat berpotensi untuk menarik minat wisatawan asing dan domestik. Sayang, daerah tujuan wisata ini sekarang kurang mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. (Sumber: http://www.kabarindonesia.com/foto.php?jd=Muara+Danau+Toba&pil=20090723171433)


Kecamatan Muara terletak dipinggiran danau toba, di kabupaten tapanuli utara. Dari muara ini sangat jelas nampak indahnya panorama wisata danau toba yang mempesona. kota kecil dipinggiran danau toba ini juga lumayan terkenal. dimana daerah inilah yang kampung halaman dari seorang Soaloon Simatupang dan saya rasa anda tahu siapa beliau.

nah.. kembali kepanorama danau toba dari kota muara ini. daerah yang dikelilingi bukit ini menjadi daya tarik tersendiri, selain nikmatnya pemandangan danau toba. dari daerah ini terlihat jelas pulau yang ada di tengah danau dan pastinya bukan danau toba, namun pulau sibandang namanya. pulau itu tidak terlalu besar seperti pulau samosir, bisa dikelilingi dengan kapal kecil atau boat, dan bila anda ingin mengelilinginya banyak kapal-kapal yang sedia membawa anda. uniknya ! pulau itu juga berpenghuni.



berbicara soal lokasi atau kestrategisan, muara dekat dengan bandara udara Silangit, jadi, misalkan anda datang dari medan dan anda bisa langsung menuju muara melalui jalur udara ke bandara silangit. Soal penginapan anda tidalah perlu khwatir di muara ada beberapa hotel yang siap memuaskan wisata anda. seperti misalnya Hotel Sentosa muara, penginapan atau motel juga tersedia serta rumah makan. dan pernak-pernik unik lainnya.
Berangkat dari bandara Silangit menuju Muara, Keindahan Danau Toba telah bisa kamu nikmati mulai dari Dolok Martumbur sebelum sampai di Kota Muara Nauli, disana ada villa panatapan yang dikenal dengan timbulan panatapan. Anda bisa beristirahat disana sebentar untuk melepaskan lelah selama perjalanan anda sambil memandang, menikmati indahnya dan luasnya alam Danau Toba. Atau sebelum ke Muara anda juga bisa singgah dulu di Huta ginjang, memandang dari pilar panatapan yang bisa memandang luasnya Danau Toba, memandang ke Balige, ke Muara dan keindahan lainya.
Puas menikmati keindahan Muara, anda juga bisa langsung ke samosir dengan tidak susah payah karna kapal Ferry Muara-Nainggolan Samosir telah beroperasi di sana. Siap dari pulau samosir, anda bisa pulang melalui parapat atau kembali ke Bandara Silangit.
Sumber:

Muara Nauli Yang Terabaikan

Muara, Misteri Wisata Danau Toba Yang Terabaikan: Google Plus

Anak-anak di pesisir Danau Toba, Kecamatan Muara saat bermain diatas kapal motor yang berlabuh di pinggiran Danau Toba, Muara dengan latar belakang Pulau Sibandang, Senin (30/9).[Foto: Horden Silalahi]
TAPUT – Kecamatan Muara, satu-satunya kecamatan di Kabupaten Taput yang berada di pesisir Danau Toba. Namun, potensi keindahan panorama dan misteri keindahan di Pulau Sibandang hingga kini masih belum terpoles menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Padahal, keindahan panorama dari Huta Ginjang dan Pulau Sibandang, sangat menakjubkan.
Warga di Kecamatan Muara, pun menilai bahwa daerah itu terkesan dianaktirikan oleh pemerintah daerah setempat dan Pemprovsu. Pasalnya, jalan menuju ke ibukota kecamatan itu, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Dimana kondisi itu, tentu tidak mendukung sektor ekonomi pariwisata.
“Sebenarnya, Kecamatan Muara ini sudah duluan kami buat menjadi daerah wisata dengan membuat nama Muara Nauli (indah). Tapi, keindahan Kecamatan Muara ini hanya tinggal indahnya saja tanpa dukungan dari pemda dan Pemprovsu. Lihat saja jalan menuju Kota Muara ini bagaimana rusaknya,” ujar warga Muara, Tiopan TP Siregar, Senin (30/9).
Ia menjelaskan, dari sisi keindahan alam, Kecamatan Muara tidak kalah dengan daerah lain di kawasan pesisir Danau Toba. ”Kalau dari sisi keindahan alam, silahkan dibuktikan saja. Mulai dari panorama Huta Ginjang, sampai ke Pulau Sibandang. Saya menilai daerah kami ini tidak kalah dengan daerah lain di pesisir Danau Toba soal keindahan. Silahkan buktikan sendiri,” imbuhnya.
Warga Muara lainnya mengatakan, selama ini mereka sudah haus akan sentuhan pembangunan dan muak dengan penyampaian permohonan pembangunan kepada Pemkab Taput.
”Kami sudah sangat haus akan sentuhan pembangunan. Tapi kami sudah muak dengan penyampaian permohonan pembangunan melalui musyawarah desa dan kecamatan untuk ditampung anggarannya di APBD. Untuk itu, yang kami inginkan saat ini adalah, perubahan kepemimpinan di Taput,” ujar Lamhot Siregar (41).
Dia menegaskan, warga Muara, pada momen Pilkada Taput saat ini, akan memilih calon yang benar-benar bisa melakukan perubahan yang baik. ”Inilah saatnya warga Muara menentukan sikap akibat kurang diperhatikan selama ini. Saya yakin, warga Kecamatan Muara akan memilih calon terbaik. Yang sudah teruji dan terpuji untuk perubahan yang lebih baik,” paparnya.
Menanggapi hal itu, Kadis Pariwisata Taput Joskar Limbong, kepada METRO saat dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (30/9) menjawab enteng. ”Kalau mereka merasa sentuhan pembenahan sarana dan prasaranan wisata disana minim, ukuran minimnya itu bagaimana. Yang kita tahu pembenahan ke Muara itu sudah baik.
Kita masih merencanakan apa yang akan kita buat disana. Dan masyarakat sisana juga harus sudah siapkan diri untuk menerima kunjungan wisatawan,” singkatnya. (hsl/mua)

MUARA KECIL EKSOTIS DAN POTENSIAL

Muara Kecil” Eksotis nan Potensial
Pemandangan perbukitan menghijau, lembah curam dan—tentu saja—panorama keindahan Danau Toba yang membiru, tak bisa lepas dari pandangan mata ketika memasuki wilayah Muara; sebuah kecamataan kecil di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Setidaknya, inilah yang akan teralami ketika memasuki kawasan Muara jika melakukan perjalanan lewat transportasi darat.
Namun selain itu, penjelajahan menuju kawasan yang memang identik dengan Danau Toba itu, juga dapat dilakukan dengan cara lain, yaitu dengan menumpang kapal angkutan kecil yang hampir setiap hari berangkat dari dermaga kapal Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), yang waktu perjalanannya akan memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Tentu saja penjelajahan lewat kapal ini, mata kita akan lebih dimanjakan dengan sajian-sajian pemandangan alam yang indah, juga sesekali akan terlihat beberapa nelayan yang sedang menyebarkan jala-jala ikannya di sekitar danau. Dan, inilah yang menjadi salah satu potret kehidupan penduduk pinggiran Danau Toba.
Pada hari tertentu, biasanya Kamis, dermaga Muara juga akan dipadati dengan kapal-kapal angkutan yang membawa para pedagang dari luar kecamatan, baik dari wilayah Tobasa, Samosir dan daerah lain. Kamis adalah hari pekan besar Muara. Pada hari itu, kota kecil Muara akan tampak ramai dengan hiruk pikuk pedagang, bongkar muat kapal, juga lalu lalang para pembeli yang datang dari desa-desa terpencil dengan menggunakan perau-perahu kecil (solu).
Selain sebagai waktunya berbelanja keperluan hidup mingguan bagi para penduduk, hari pekan itu juga menjadi hari di mana para petani dan nelayan akan menjajakan hasil usahanya untuk menyambung keperluan hidup sehari-hari.
Meski demikian, selain sebagai nelayan danau, mata pencaharian kecamatan yang terdiri dari 15 desa; dihuni sekitar 2.893 kepala keluarga (kira-kira 15.171 jiwa; mayoritas etnis Batak Toba) itu, mayoritas bersumber dari sektor pertanian, seperti padi dan sayur-sayuran.
Potensi pertanian lainnya adalah buah mangga. Selain di Muara, pohon mangga banyak terdapat di Pulau Bandang, yang letaknya tak berapa jauh dari Muara, yang kemudian dikenal dengan “Pulau Mangga”.
Tapi, ini juga menjadi ciri khas Muara, yang sudah biasa berlangsung dari tahun ke tahun. Biasanya antara bulan Agustus hingga September akan terjadi panen mangga besar-besaran. Mangga yang dikenal dengan “Mangga Muara” itu terkenal manis rasanya, meski buahnya tergolong kecil-kecil. Namun, inilah salah satu andalan kekayaan alam Muara.
Tak heran pula jika pada masa penen besar itu, wilayah lain akan turut kebagian “getah” menikmati manisnya buah mangga yang harganya tergolong murah itu. Mangga Muara malah kerab dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang sering berkunjung ke Parapat.
Kaya Potensi Wisata

Muara, kecamatan yang terletak di sebelah utara kawasan Danau Toba, seperti daerah lainnya yang berada di kawasan pinggiran Danau Toba, juga memiliki keindahan alam tersendiri. Tentu saja, potensi itu juga tak kalah potensialnya jika dibandingkan dengan daerah lainnya itu, meski dilatarbelakangi kultur atau tradisi yang tak jauh berbeda.
Maka tak heran jika sejak lama Muara sudah ditetapkan sebagai salah satu kawasan wisata Sumut, yang secara khusus pengelolaan potensi itu diserahkan kepada kabupaten yang menaunginya, yaitu Tapanuli Utara (Taput).
Sebutan “Muara Nauli’, yang artinya “Muara yang indah” pun sebenarnya tak meleset dari kenyataan. Sayangnya, sekadar memuji keindahan itu nampaknya tak cukup. Butuh polesan lebih agar ia memberi arti, baik secara ekonomi maupun kultur sosial. Pasalnya, keindahan alam Muara yang penuh tantangan serta “godaan” panorama alamnya, juga hembusan anginnya yang menyejukkan itu, walau disebut-sebut sebagai salah satu objek wisata andalan Kabupaten Taput, ternyata hingga kini belum terlihat telah menunjukkan gaungnya.
Kondisi ini diakibatkan minimnya polesan kepada Muara. Sayangnya lagi, tampaknya investor belum berani melirik kawasan Muara sehingga nantinya mampu memberikan sesuatu yang berbeda bagi wisatawan.
Hal ini juga dapat terlihat dari bukti masih minimnya jumlah kunjungan wisatawan menuju Muara. Bahkan, tak diketahui secara pasti angka kunjungan wisatawan yang pernah mengunjungi kawasan itu. Pendataan kunjungan wisatawan menuju Muara belum pernah dilakukan oleh dinas terkait setempat.
Dibandingkan Parapat misalnya, Muara belum memiliki daya tarik atau keunikan tersendiri yang bisa “dijual”. Maka tak heran jika gaungnya belum juga terlihat. Kalau hanya memandang panorama alamnya saja, wisatawan pasti cepat bosan. Di sisi lain, para wisatawan sebenarnya ingin melihat sesuatu yang mampu membuat mereka betah berlama-lama di sana.
Danau Toba didiami oleh tujuh kabupaten yang dilatari budaya, bahasa, tradisi yang hampir sama. Nah, jika Muara tak memberikan sesuatu yang lebih dari apa yang sudah ada di daerah lain seperti Parapat, Tomok, Tuktuk, maka siapa lagi yang akan mengunjunginya.
Kendala lain, meski akses menuju Muara memang tak hanya satu, namun hal itu masih menjadi kendala lain bagi wisatawan. Jarak Muara kira-kira 38 kilometer dari Kota Tarutung. Selain itu, meskipun Bandara Silangit (yang jaraknya hanya 11 kilometer dari Muara) telah hadir untuk menjawab masalah itu, namun belakangan langkah itu belum memberi arti penting untuk menarik wisatawan datang ke Muara.
Pulau Sibandang dan Hutaginjang

Muara bukan hanya Muara. Sebutan itu bukanlah isapan jempol belaka jika melihat potensi wisata yang ada di Kecamatan Muara. Sebut saja Pulau Sibandang misalnya, sebuah pulau kecil seluas kira-kira 1.119 hektar yang menjadi pulau kedua di tengah Danau Toba setelah Pulau Samosir itu, merupakan kawasan yang sejak lama sudah diperioritaskan untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata Taput.
Pulau Sibandang merupakan lokasi yang potensinya layak diperhitungkan. Lokasi Pulau Sibandang merupakan salah satu kawasan strategis dan memiliki prospek menjadi resor wisata air. Disebutkan bahwa di sekitar lokasi perairan merupakan lokasi strategis untuk berbagai aktivitas olahraga air seperti parasailing, ski air, jet ski, kano, sampan tradisional dan renang.
“Daratan pulau ini juga layak dilirik sebagai tempat yang ideal untuk pertandingan tinju, pacuan kuda, atraksi budaya lokal, dan pembangunan lapangan golf.” Demikian disebutkan dalam rencana program pembangunan kawasan Muara, yang merupakan salah satu bagian dari visi pembangunan daerah Taput itu.
Di Muara sendiri, saat ini sudah berdiri sebuah hotel dengan standar yang cukup memadai yang diharapkan akan menjadi titik awal berkembangnya penanaman modal di kawasan Muara, katanya.
Ajang kompetisi paralayang/gantole juga kerap dilaksanakan di kawasan Desa Hutaginjang, Kecamatan Muara. Kawasan Desa Hutaginjang adalah dataran tinggi Muara, yang memiliki curah angin cukup tinggi. Dari ketinggian itu, dilakukan start ajang kompetisi paralayang yang akan melintasi lokasi perairan Danau Toba yang akan finish di beberapa tempat seperti Pulau Sibandang maupun Desa Aritonang, yang merupakan salah satu desa budaya Muara. (Metro Bonapasogit)

Jumat, 25 Oktober 2013

GELIAT MUARA NAULI TAPUT


Menyajikan sekelumit geliat di Bona Pasogit, baik pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
Informasi-informasi di blog diambil dari berbagai sumber, tentunya untuk lebih memperkaya khasanah berpikir, bertindak dan berlaku Bangso Batak, tidak ada niatan untuk melukai siapapun juga. Mari kita raih dan songsong Bona Pasogit yang indah dan sejahtera.

Kamis, 06 Desember 2012

Geliat Pariwisata Kabupaten Tapanuli Utara Dengan "Pesta Mangga"

Kabupaten Tapanuli Utara Propinsi Sumatera Utara yang terletak di Kawasan Danau Toba memiliki berbagai jenis kekayaan alam, antara lain keindahan alamnya yang berada di Bukit Barisan dan sebahagian dari perairan Danau Toba di Kecamatan Muara.

Salah satu pulau di Danau Toba adalah Pulau Sibandang. Pulau Sibandang yang berada di Kecamatan Muara terbagi atas tiga wilayah administrasi pemerintahan, masing-masing Desa Sibandang, Desa Sampuran dan Desa Papande.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Drs. Joskar, M.Si pada 28 Agustus 2012 mengajak masyarakat Desa Papande menyelenggarakan "pesta makan buah (mangga) di musin panen", khususnya di bulan Desember.

Atas berbagai pertimbangan dan pengharapan ke masa depan, akhirnya Bupati Tapanuli Utara bersepakat dengan masyarakat Kecamatan Muara untuk menjadikan Muara menjadi destinasi tujuan iwisata di Kabupaten Tapanuli Utara.  Untuk mewujudkan itu maka disepakati pula bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan, yakni PESTA MANGGA, yang dirangkai dengan berbagai kegiatan lainnya sebagai kegiatan pendukung.
Panitia yang dibentuk oleh Bupati Tapanuli Utara untuk menyelenggarakan Pesta Mangga ini dalam perjalanan waktu akhirnya memutuskan pelaksanaan kegiatan pada tanggal 8-9 Desember 2012 dengan acara pendukung antara lain : 
8 Desember 2012 (Pulau Sibandang)
  1. Sepeda Gembira, yaitu mengelilingi lingkar Pulau Sibandang sejauh lebih kurang 12 km;
  2. Pentas Seni dan Budaya;
9 Desember 2012 (Pantai Muara)
  1. Jalan Santai Pantai ke Tugu Toga Siregar (+Kebaktian);
  2. Perlombaan Solu;
  3. Mangungkor (Mangga);
  4. Manortor (Mangga);
  5. Devile Mangga;
  6. Kontes Mangga;
  7. Lomba Makan Mangga.
Ketua Panitia Alboin Siregar dalam rapat evaluasi akhir persiapan penyelenggaraan Kamis 6 Desember 2012 mengharapkan agar segenap unsur kepanitiaan mencurahkan perhatian dan kesungguhan sehingga pesta mangga perdana ini dapat terselenggara sesuai dengan perencanaan dan akan dapat dijadikan sebagai tolok ukur penyelenggaraan ke tahun yang akan datang.
Masih menurut  Ketua Panitia Alboin Siregar, segenap masyarakat KecamatanMuara mampu menjadikan momen ini sebagai awal kebangkitan Kecamatan Muara menjadi destinasi tujuan wisata lokal dan internasional, terlebih lagi dengan telah adanya berbagai dukungan infrastruktur dan sarana lainnya yang sudah ada di Kabupaten Tapanuli Utara.

LETAK MUARA TAPANULI UTARA

0
Panorama Wisata Danau Toba Dari Kota Muara Tapanuli Utara

Kecamatan Muara terletak dipinggiran danau toba, di kabupaten tapanuli utara. Dari muara ini sangat jelas nampak indahnya panorama wisata danau toba yang mempesona. kota kecil dipinggiran danau toba ini juga lumayan terkenal. dimana daerah inilah yang kampung halaman dari seorang Soaloon Simatupang dan saya rasa anda tahu siapa beliau.

nah.. kembali kepanorama danau toba dari kota muara ini. daerah yang dikelilingi bukit ini menjadi daya tarik tersendiri, selain nikmatnya pemandangan danau toba. dari daerah ini terlihat jelas pulau yang ada di tengah danau dan pastinya bukan danau toba, namun pulau sibandang namanya. pulau itu tidak terlalu besar seperti pulau samosir, bisa dikelilingi dengan kapal kecil atau boat, dan bila anda ingin mengelilinginya banyak kapal-kapal yang sedia membawa anda. uniknya ! pulau itu juga berpenghuni.

berbicara soal lokasi atau kestrategisan, muara dekat dengan bandara udara Silangit, jadi, misalkan anda datang dari medan dan anda bisa langsung menuju muara melalui jalur udara ke bandara silangit. Soal penginapan anda tidalah perlu khwatir di muara ada beberapa hotel yang siap memuaskan wisata anda. seperti misalnya Hotel Sentosa muara, penginapan atau motel juga tersedia serta rumah makan. dan pernak-pernik unik lainnya.


Berangkat dari bandara Silangit menuju Muara, Keindahan Danau Toba telah bisa kamu nikmati mulai dari Dolok Martumbur sebelum sampai di Kota Muara Nauli, disana ada villa panatapan yang dikenal dengan timbulan panatapan. Anda bisa beristirahat disana sebentar untuk melepaskan lelah selama perjalanan anda sambil memandang, menikmati indahnya dan luasnya alam Danau Toba. Atau sebelum ke Muara anda juga bisa singgah dulu di Huta ginjang, memandang dari pilar panatapan yang bisa memandang luasnya Danau Toba, memandang ke Balige, ke Muara dan keindahan lainya.
Puas menikmati keindahan Muara, anda juga bisa langsung ke samosir dengan tidak susah payah karna kapal Ferry Muara-Nainggolan Samosir telah beroperasi di sana. Siap dari pulau samosir, anda bisa pulang melalui parapat atau kembali ke Bandara Silangit.

Lokasi Muara

Lokasi Wisata di Tapanuli Utara

PARIWISATA MUARA NAULI

Muara – Taput Pintu Gerbang Wisata Danau Toba Bonapasogit

Dikirim Oleh : Webmaster [Kamis, 01 Januari 1970]
* KM Muara Diluncurkan Kecamatan Muara – Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) yang terletak di tepian Danau Toba memiliki segudang potensi wisata alam yang layak jual dan mampu menarik wisatawan mancanegara. Namun belum dapat diberdayakan optimal guna meningkatkan perekonomian masyarakatnya, karena keterbatasan dana yang dimiliki Pemkab Taput.
 Hasher-hasher (pecinta alam) dunia yang berkunjung ke Kota “Mangga” ini pada tahun lalu, sangat kagum melihat misteri panorama alam Muara dan menyebutnya sebagai pintu gerbang wisata Danau Toba untuk daerah Bonapasogit (Taput,Humbahas, Tobasa dan Samosir). Daerah ini satu-satunya yang memiliki Pulau di danau Toba yang disebut Pulau Sibandang yang dihuni penduduk ribuan KK. Sedangkan Pulau Samosir yang kini menjadi Kabupaten Samosir dapat menjadi sebuah Pulau karena dikeruk dihulu daerahnya yang disebut “Tano Ponggol”.
Mencermati wisata danau Toba dan wisata sejarah Muara yang selama ini nyaris terbenam, Pemkab Taput berupaya keras mendongkrak potensi yang terkandung disana dengan cara mengajak para anak rantau Muara yang berhasil diperantauan untuk membangun kampung halamannya. Baru-baru ini, seorang pengusaha dan tokoh pemuda Sumut, Samsul Sianturi SH membangun sebuah hotel berbintang tiga (3) di tepian danau toba Muara. Hotel “Sentosa“ tersebut dilengkapi berbagai fasilitas dan sudah diresmikan oleh Gubsu Drs Rudolf M Pardede.
Disetiap kunjungannya, Bupati Taput Torang Lumbantobing selalu mengajak masyarakat Muara supaya selalu bersikap ramah, jujur dan punya kepedulian sehingga wisatawan yang datang merasa betah. Dan pada akhirnya potensi wisata danau toba Muara cepat berkembang ke depan. “Panorama indah ini merupakan anugerah dan harta karun yang tersembunyi. Untuk memberdayakannya, kita harus menjalin kebersamaan antara masyarakat, Pemkab Taput dan anak rantau. Sebenarnya, panorama alam daerah ini sudah jauh lebih indah dari Bali. Kita berterimakasih kepada anak rantau yang mau ‘Martabe’ ke kampung halamannya, seperti, Samsul Sianturi SH yang sudah membangun hotel berbintang tiga. Karenanya, Pemkab Taput tetap komit membangun Muara menjadi daerah parawisata bonapasogit”ujar Bupati Taput pada acara peluncuran Kapal Motor (KM) Muara milik Pemkab Taput, Sabtu (10/3) di desa Sitiotio Kecamatan Muara. Hadir disana Sekjen HKBP Pdt. W.T.P. Simarmata, MA, Wakil Ketua DPRD Taput Drs BP Nababan, Kapolres Drs Eko Sukriyanto, Ketua TP PKK Taput Ny Torang Lumbantobing/ E. boru manalu, Drs Burhanuddin Rajagukguk (anggota DPRDSU), Samsul Sianturi SH (anak rantau), para Camat se-Taput, para Kepala Desa, tokoh masyarakat/adat dan pejabat lainnya.
Menurut bupati, membangun Muara menjadi daerah wisatawan sangat dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk memelihara pembangunan yang ada. Areal tepi pantai harus dijaga kebersihannya. Dengan beroperasinya KM Muara diharapkan dapat menjadi motivasi bagi semua pihak untuk lebih meningkatkan kebersamaan dalam mendongkrak potensi wisata Muara ini. Kita sangat kagum atas peluncuran KM Muara ke danau toba dilakukan secara tradisional dengan menggunakan ratusan tenaga manusia. Itu merupakan wujud sebuah kebersamaan,ujarnya.

Tradisional

            Peluncuran KM Muara dilakukan secara tradisional yang di isi dengan acara ritual adat Batak yang dipimpin Panatua adat/tukang kapal didampingi Ibu-Ibu dengan mengucap “Tonggo-tonggo” (Doa) kepada sang pencipta, supaya kapal tetap dalam lindungannya. Paling unik, seluruh yang dituakan bersama Ny Torang Lumbantobing/ E. boru Manalu makan sirih sambil membawa beras berisi telur ayam ke tepian danau toba sekaligus menepung tawari Kapal berkapasitas 250 orang itu.
            Sebelumnya, dilakukan acara tortor bersama Panatua adat setempat dengan pemberian ‘Itak Gurgur’ (lepat Batak) kepada pemilik kapal (Bupati Taput dan unsur Muspida).
            St Jusman Sianturi (tukang kapal) dalam laporannya menyebut, pembuatan KM Muara dilakukan berbulan-bulan dengan memakai bahan dari kayu langka. “Pembuatan kapal diwarisi secara turun-temurun. Historis pembuatan galangan kapal sudah diciptakan neneka moyang kami, sejak tahun 1941 oleh marga Sianturi. Di desa Sitiotio Kecamatan Muara ini, sudah ada tangkahan Solu Bolon (samapn besar) yang sejak dulu dipakai nenek moyang marga Sianturi. Jadi pembuatan KM Muara, masih kami lakukan secara tradisional. Itu karena peralatan modern belum dimiliki”sebutnya.
            Menurut Jusman Sianturi, KM Muara mampu mengangkut penumpang dua ratus lebih, dengan daya tahannya sangat kuat dan terbuat dari kayu langka. Untuk memajukan usaha pembuatan kapal, kami membutuhkan bantuan Pemerintah berupa peralatan modern sehingga tidak lagi secara tradisional. Sebagai dukungan kepada Pemkab Taput, masyarakat desa Sitiotio menyerahkan tanah di tepian danau toba untuk digunakan sebagai lokasi dermaga kapal, ujarnya.
            Anak rantau pemilik Hotel Sentosa Muara, Samsul Sianturi SH kepada ‘wartawan’ mengatakan, potensi wisata danau toba Muara punya prospek cerah. Hanya saja untuk memberdayakannya sangat diperlukan konsep tata ruang pembangunan sebagai daerah tujuan wisata. Tidak dapat kita pungkiri bahwa Muara sebagai pintu gerbang wisata danau toba Bonapasogit. Kecamatan Muara terletak dipinggiran danau toba yang diapit pegunungan dan memiliki Pulau Sibandang. Masyarakatnya sangat ramah. Sehingga daerah ini dijuluki “Muara Nauli” (Muara Indah). Ini yang perlu kita kembangkan kedepan. Kita telah membangun sebuah hotel berbintang tiga disini. Mudah-mudahan dapat menjadi motivasi dalam memajukan parawisata danau toba Muara,ujar Samsul Sianturi SH.