Sabtu, 26 Oktober 2013

TANAH TOBA MUARA NAULI

Oleh : Monang Naipospos

Muara Nauli

Kecamatan Muara di kabupaten Tapanuli Utara cukup terkenal dengan buah mangganya. Daerah ini memiliki potensi pertanian pangan (padi) plawija (bawang) perkebunan (mangga). Sejak memasuki daerah Muara dari Silangit, kita akan menebar pemandangan dan melihat pepohonan hijau terbentang hingga pulau nan indah Sibandang. Melewati Kota Muara menuju Lontung hingga Bakkara juga kita masih melihat pohon Mangga bertebar di sisi jalan.
Bulan Januari ini musim mangga di Muara. Rencana berburu mangga sudah saya rencanakan sejak awal panen, namun selalu ada saja penghambat. Kemaren (Minggu 26/1) bersama teman saya Lambaik Manalu wartawan Batak Pos melaju ke Muara. Panorama indah tidak kami abaikan sembari melihat pohon mangga di tepi jalan. Wah, ini terlihat pohon mangga masih berbunga. Sempat ada rasa kecewa, kehabisan buah mangga “namalamum” yang sudah masak.
Menjelang Unte Mungkur dipinggir jalan kami melihat anak-anak kecil berjejer seraya menyapa “mangga tulang … mangga”. Mereka menawarkan mangga dagangan mereka yang ditempatkan didalam ember plastik dan kantongan plastik. Mereka cukup agresif memberi keyakinan pada kami untuk membeli mangganya itu. Saya melihat mangga itu agak kecil dan kulitnya kurang bagus, sebagian masih mengkal. Karena semangat dan kelucuan yang mereka lakonkan, saya jadi tertarik membeli dagangan mereka itu.
Ada boru Aritonang, boru Rajagukguk, Ompusunggu. Di beberapa kelompok cilik lain kami tidak sempat menanyai marga mereka. Begitu mereka tau kami dari Laguboti mereka tertawa dan sebagian tidak yakin. Paling tidak kami dianggapnya dari Medan atau Jakarta. Wah ….. apa kami ini kereeennnn! ;-)
“Mangga yang kulitnya hitam itu manis tulang”, jelas mereka meyakinkan saya saat memilih mangga yang baik untuk dicoba. Ternyata benar…. Hmmmm…. Maniss…. Enak…. Menakjubkan. Anda pernah menikmati mangga Muara ? Woooooww pasti anda meneteskan air liur.
Menjelang Muara kita melewati gapura alami dari pohon mangga di sisi kiri dan kanan jalan raya. Pohon mangga itu sekarang terlihat sudah termakan usia tua, tidak lagi rindang.
Kenapa buah mangga itu banyak yang busuk? Anak anak menjawab singkat. Kami tidak tau tulang. Kami tidak dari dalam, jadi tidak tau itu busuk. Itu jawaban anak kecil dan wajar. Namun jawaban dewasa harus mangkaji dulu, kenapa selalu begitu ?
Peningkatan kualitas mangga memang perlu dipikirkan untuk mampu menguasai pasar buah di Indonesia. Busuk mangga menjadi persoalan. Pengetahuan tradisional dari leluhur selalu mengatakan “Jangan memakan buah dekat pohonnya”. Semasa kecil saya berpikir, apa hubungannya? Kami dulu selalu membuat onggokan sampah rerumputan untuk dibakar dengan bara pada sore hari. Asap tanpa api mengebul mengitari sesisi kebun. Dengan kepatuhan tidak memakan buah di pohonnya dan membersihkan sekitar pohon dan menyingkirkan buah rusak yang jatuh ternyata meminimalkan buah busuk.
Sayang kami tidak sempat mengitari kebun mangga di Muara. Apakah dengan menerapkan pesan para orang tua untuk memelihara pohon berbuah dapat meningkatkan kualitas mangga di Muara?
Tidak ada fasilitas wisata musim mangga di Muara kami temukan. Setidaknya kami ingin masuk daerah kebun yang tertata rapi linglungan dengan fasilitas pendukung bagi pengunjung. Ada dua manfaat yang diharapkan wisatawan local ke Muara pada musim mangga. Makan mangga yang enak langsung dari kebunnya dan menikmati panorama indah danau toba.
muara_02.jpg muara_02a.jpg muara_03.jpg muara_04.jpg muara_05.jpg muara_06.jpg muara_07.jpg muara_08.jpg muara_09.jpg muara_13.jpg muara_14.jpg muara_15.jpg muara_16.jpg muara_17.jpg muara_18.jpg muara_19.jpg muara_20.jpg muara_21.jpg
Dibalik keindahan Muara..
Memandang dari atas buki ke Muara memang menakjubkan. Menelusuri punggung bukit menuju kota mangga itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Di beberapa tempat lokasi pandang memang sudah disediakan fasilitas memandang bagi peminat panorama danau toba. Tapi sayang, lokasi itu gersang, penataan tanpa sentuhan seni, tanpa pohon rindang. Bila panas terik, maka siaplah terpanggang sinar matahari.
Di kota Muara kita menamukan dua hotel. Salah satu hotel terbaru cukup megah, namun sepi penginap. Pantai Muara tidak menawarkan pengunjung untuk mandi dan bermain di perairan. Pantainya kotor, sisi pantai tidak terawat. Beberapa tempat yang landai yang justru diharapkan untuk wisata pantai justru banyak tumpukan eceng gondok. Wah … dimana mandinya ya ?
Pelabuhan Muara sudah ditambah fasilitas dermaga untuk kapal ferry. Kabarnya ferri line Nainggolan-Muara sudah direncanakan. Dermaga dengan dana miliaran rupiah itu terkesan kurang rapi, asal ada saja. Dermaga itu menampung limbah danau. Disekitar dermaga terlihat lumut air menjuntai menyeramkan seperti siap membelit. Kebersihan memang salah satu topik untuk dipelajari bagainama melakukannya. Sekuat apa kita berteriak untuk menawarkan panorama indah danau toba, bila hal kecil soal kebersihan diabaikan, itu menjadi slogan penyangga untuk ketidak hadiran wisatawan keduakalinya.
NUNGA MARPARBUE MANGGA DI MUARA
nunga jumpang tingkina
marmutik mangga di balian
sinuan ni ompungta
tinamboran ni amanta dohot inanta
nunga leleng hupaima
las ma roha
dung mararumas parbuena
mongkol
marsipigo
unang rambasi nina angkang
asa denggan malamun
ringgas do nang ito mandulo
nunga malamun mangganta
hupaboa tu ito
dohot tu angkang
di nadao
dipangarantoan
asa manjangkit angkang
manutihi au ditoru
nunga malamun mangga di Muara
godang ma jolma ro
angka situhor mangga
hugadis do mangga di topi dalan
huingot do angkang dohot ito
dang huboto manongoshon
dang ro mangalap
masihol au tu angkang dohot ito
uju malamun mangga dihuta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar